Disebut Terkait Truk Jui Shin, Jenal Arifin: Langsung Saya Hentikan
KARAWANG - Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Jenal Arifin, memberikan klarifikasi terkait penyebutan nama PT Cipagamas (CPM) oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam pembahasan aktivitas truk pengangkut bahan tambang di Karawang.
Jenal mengakui PT Cipagamas merupakan perusahaan miliknya. Namun, ia menegaskan bahwa operasional armada tidak dikelolanya secara langsung karena terdapat divisi khusus yang menangani usaha tersebut.
“Perusahaan itu memang perusahaan saya, tapi tidak serta-merta saya yang mengelola. Saya punya pabrik ready mix beton. Kalau konsumen mau membawa atau menjual ke mana, saya tidak tahu. Itu urusan beton dengan konsumen,” ujar Jenal pada Rabu (16/9/2026).
Menurut Jenal, hal serupa berlaku terhadap armada kendaraan. Pengelolaan dan kerja sama penggunaan kendaraan dilakukan oleh divisi armada, bukan atas perintah langsung dirinya.
Jenal mengatakan, dirinya baru mengetahui adanya kerja sama penggunaan armada dengan PT Jui Shin setelah membaca laporan bulanan perusahaan.
“Pada saat saya membaca laporan dan ada armada saya digunakan oleh PT Jui Shin, tentunya saat itu juga saya hentikan operasionalnya,” katanya.
Ia menjelaskan, dari empat unit armada yang terdaftar, baru dua unit yang sempat digunakan dalam aktivitas tersebut. Namun, penggunaan armada itu disebut berlangsung dalam waktu yang tidak lama.
“Yang terdaftar memang empat unit, tapi yang terpakai baru dua unit. Itu pun cuma sebentar, tidak lama,” ujarnya.
Jenal menegaskan, kerja sama tersebut bukan dibuat secara pribadi olehnya, melainkan dilakukan oleh divisi yang menangani armada.
“Kerja sama itu bukan dibangun secara pribadi oleh saya, tetapi divisi armada yang melakukan kerja sama. Begitu saya membaca laporan ada kerja sama dengan PT Jui Shin, langsung saya hentikan,” tegasnya.
Jenal juga membantah pernah memiliki kontrak kerja sama secara langsung dengan PT Jui Shin.
“Saya tidak pernah punya kontrak kerja sama dengan PT Jui Shin. Tidak pernah ada,” katanya.
Ia memastikan aktivitas armada tersebut saat ini sudah tidak beroperasi.
Jenal menambahkan, mekanisme pengelolaan armada di perusahaannya memang berada di bawah divisi khusus sehingga seluruh aktivitas kendaraan tidak berada dalam komando langsung dirinya.
“Operasional armada itu bukan langsung dari komando saya. Ada divisi khusus untuk mengelola usaha armada itu,” pungkasnya.

